TINDAK KRIMINAL SEORANG APARAT POLISI KEPADA SEORANG KULI

Polisi, adalah seorang pelindung masyarakat, aparat yang seharusnya mengayomi masyarakat. Polisi seharusnya meng-kedepankan Hak Asasi Manusia terutama pada masyarakat. Namun, kejadian ini sangatlah bertolak belakang dengan apa yang seharusnya seorang polisi lakukan.

Peristiwa mengenaskan ini terjadi di Polsek Percut Sei Tuan,Medan, Sumatera Utara saat seorang kuli bernama Sarpan harus merasakan pahitnya perlakuan seorang anggota polri yang tega menyiksa hingga menyetrum dirinya. Bermula dari Sarpan yang merupakan sorang saksi pembunuhan terhadap Dodi Sumanto, namun pada kenyataannya saat Sarpan di bawa untuk diamankan sebagai saksi , malah di paksa untuk mengaku bahwa dirinya adalah pembunuh Dodi Sumanto.

Padahal tersangka asli yang bernama Anzar (yang merupakan anak dari pemilik rumah yang tengah diperbaiki oleh Sarpan) sudah tertangkap.

Polisi tetap bersikeraas membantah adanya penyiksaan terhadap Sarpan, menurut polisi, saat menginterogasi polisi bertanya dengan baik-baik dan bersikap santun juga ramah. Namun, jelas bantahan polisi itu di kritik habis – habisan.  Sapan sendiri di intergasi selama 5 hari berturut-turut. Tetapi Kapolsek Percut Seituan Kompol Otniel Siahaan berdalih , mereka hanya sebatas memintai keterangan Sarpan selama tiga hari.

“Tidak benar (ada penyiksaan). Kami hanya memeriksa dia (Sarpan) secara marathon selama tiga hari. Jadi tidak benar ditahan lima hari,” kata Otniel.

Sarpan di bawa polisi ke lokasi pembunuhan, persisnya di Jalan Sidumolyo, Gang Gelatik Pasar 9, Desa Sei Rotan, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang. Lalu sesudah di bawa ke TKP, Sarpan kemudian di interogasi (di proses) untuk di tanyai tentang kasus pembunuhan ini. Tetapi keadaan pada saat ia di tanyai benar-benar beringas.

“Saya menjadi korban keberingasan oleh oknum Polisi di sel tahanan Polsek Percut Sei Tuan. Sebab, di sana [saya] dihujani pukulan bertubi-tubi. Padahal, saya sudah mengatakan bukan pelaku dari pembunuhan itu. Namun, tetap saja disiksa sampai sekujur tubuh dan wajah jadi begini,” ujar Sarpan kepada Delinewstv.

Dari foto yang beredar, Sarpan menderita luka lebam, terkhusus bagian mata.

Sarpan, sebagai mandor Dodi, dipanggil polisi pada 3 Juli sebagai saksi kasus. Pada saat Sarpan  masuk ruang penyidik, Sarpan malah disuruh jongkok dengan sebatang kayu di belakang lutut serta mata dan mulutnya ditutup. Tanpa penjelasan, ia mengaku dipukuli di bagian dada dan perut hingga diinjak-injak dalam tahanan. Sembari menerima siksaan, saat itu Sarpan tidak tahu mengapa dirinya disiksa.

Terkait kasus tesebut, dua petinggi Polsek diperiksa. Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Tatan Dirsan mengatakan Ia menyebutkan bahwa kedua petinggi tersebut yang diperiksa terkait penganiayaan saksi tersebut adalah Kanit Reskrim Iptu Luis Beltran dan Panit Reskrim sudah di periksa.

Lalu Amnesty Internasional Indonesia (AII) menegaskan penyiksaan terhadap seorang kuli tindakan kriminal beringas. Polisi yang melakukan penyiksaan harus mendapat sanksi berat.

Direktur Eksekutif AII ,Usman mendesak polisi mengusut dugaan penyiksaan yang terjadi di Sumatera Utara itu.

Sebab sama sekali tidak bisa dibenarkan baik oleh hukum internasional maupun oleh aturan internal kepolisian” ujar Usman

Sarpan pun mengaku sampai saat ini dirinya tidak pernah terlibat dalam kasus pembunuhan Dodi Somanto. Lantaran mendapat kabar Sarpan disiksa dan dianiaya penyidik, banyak warga bersama pihak keluarga mendatangi Polsek Percut Seituan pada Senin (6 Juli 2020) sore. Warga mendesak agar Sarpan dibebaskan, karena dia tidak terlibat dalam kasus pembunuhan Dodi Somanto.

Atas desakan warga dan keluarga, polisi akhirnya melepaskan Sarpan. Begitu keluar dari polsek, tak sedikit warga yang terkejut. Pihak keluarga bahkan menangis melihat kondisi Sarpan yang lebam-lebam.